Leading or Following?

Baru kemarin Indonesia mengadakan pilkada serempak di lebih dari 100 daerah baik itu provinsi ataupun kota/kabupaten. Ya, inilah proses untuk memilih siapa yang harus memimpin suatu daerah, memimpin rakyatnya dan membuat kebijakan untuknya. Pemimpin menjadi hal yang sangat krusial bagi bergeraknya kumpulan manusia. Jangankan negara, sebuah kelompok kecil perjalanan pun perlu memiliki pemimpin.

Sejarah kehidupan di bumi telah melahirkan banyak pemimpin. Berbagai kisah lahir dari orang-orang yang diagung-agungkan namanya ataupun dari nama yang selalu dijadikan contoh perbuatan yang tak boleh dilakukan. Itulah manusia, terlebih lagi pemimpin, yang akan mati dengan meninggalkan namanya. Nama yang menjadi kesan baik atau buruk bagi generasi setelahnya.

Hal-hal ini juga menghadirkan banyak metode kepemimpinan yang kini mungkin banyak telah dibukukan. Penggila bacaan pasti tidak asing dengan Sirah Nabawi yang menceritakan kehidupan Rasulullah Muhammad SAW, atau Seni Berperang ala Sun Tzu. Tak tertinggal pula, biografi ataupun tulisan-tulisan tokoh bangsa macam bung Karno, bung Nasir yang menjadi acuan mode kepemimpinan oleh para pemuda.

Banyaknya buku serta latihan kepemimpinan membuat pengajaran tentang hal ini dengan mudah didapatkan. Namun, sadarkah jika ada satu hal yang kurang? Logikanya, saat banyak orang atau bahkan semua orang belajar memimpin, adakah orang yang sudi dipimpin? Fenomena ini yang mungkin kini nampak di dunia milenia ini. Saat dimana banyak orang ingin berpendapat, saat dimana seorang pemimpin pun sulit untuk mengumpulkan timnya untuk sekadar berkoordinasi.

Perumpamaan sebuah negara, pastilah membutuhkan rakyat untuk menggerakkan negara itu. Saat sebuah tim tak ada lagi yang mau dipimpin, apakah yang dapat dilakukan tim itu? Sebuah kapal layar saja hanya memiliki seorang kapten yang senantiasa mengarahkan kapal dan krunya ke arah yang seharusnya. Saat semua ingin memimpin,komando pun menjadi kacau dan koordinasi menjadi suatu hal yang mustahil dilakukan.

Tanpa adanya satu pemimpin yang jelas, tujuan dari sebuah gerakan akan sulit diwujudkan. Haruslah ada orang-orang yang rela untuk dipimpin. Menjadi pengikut juga bukanlah sebuah hal yang “hina” dan tidak berharga. Dan bukan berarti tak bisa mengambil bagian dalam penentuan kebijakan. Menjadi orang yang terpimpin dapat pula mempengaruhi setiap keputusa yang diambil oleh pemimpin. Dan akan sangat mustahil sekali seorang pemimpin egois terhadap siapa yang dipimpinnya. Dampak menjadi follower mungkin akan berpengaruh lebih besar terhadap kebijakan yang keluar.

Menjadi follower kadang juga menjadi posisi yang lebih menyenangkan. Akan lebih mudah untuk mengembangkan kemampuan spesifik saat hal itu memang dibutuhkan dalam menggerakkan roda suatu pergerakan. Bandingkan dengan menjadi seorang pemimpin yang harus memiliki pengetahuan luas karena memang dibutuhkan untuk jalannya organisasi terlebih untuk berkomunikasi dengan tim. Namun, kebanyakan orang yang berpengetahuan luas, tidaklah dalam pemahamannya. Jikalau pun dalam, akan membutuhkan energi ekstra untuk menekuni masing-masinh hal yang ingin dikuasai.

Intinya adalah, sebuah tim/organisasi/kesatuan/apapun itu, tetaplah membutuhkan follower.  Dan seorang pemimpin pun tidak dapat jadi begitu saja, diperlukan banyak pengalaman. Menjadi follower mungkin menjadi pilihan terbaik, pilihan yang akan membawamu mendapat pelajaran lebih dan bisa belajar dari kesalahan pemimpinmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s