Perpindahan Yang Menguatkan : Tentang Evolusi Manusia

Sejak SMP hingga SMA, saat mengambil mata pelajaran Sejarah pasti tidak akan lepas dari tahapan kehidupan manusia. Evolusi menjadi satu hal yang tidak dapat terpisahkan dari pembahasan ini. Evolusi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan (sedikit demi sedikit). Dari definisi ini, evolusi akan memakan waktu lama menuju kondisi berikutnya.

Terlepas dari pro-kontra pembahasan evolusi yang digagas oleh Darwin, lebih menarik bagi saya probadi untuk membahas perubahan kehidupan sosial masyarakat. Dalam sejarahnya, manusia sempat mengalami masa berburu hingga kini mencapai masa industri. Perubahan gaya hidup yang terjadi pada masyarakat disebabkan oleh banyak hal. Keadaan lingkungan, tingkat kecerdasan, hingga susunan sosial masyarakat begitu berpengaruh terhadap perubahan gaya hidup ini. Selain cara mencari makan, manusia berkembang pula dari cara hidup yang nomaden (berpindah-pindah) hingga banyak manusia yang menetap seperti sekarang ini.

berburu
Masyarakat berburu

Dari penjelasan saya sebelumnya, perkembangan manusia ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan, kecerdasa, maupun perilaku sosial kelompoknya. Dengan berkembangnya teknologi, maka kehidupan manusia pun akan semakin maju. Pada jaman berburu mungkin teknologi manusia hanya terbatas pada penggunaan peralatan untuk membunuh hewan buruan. Namun, keberadaan hewan buruan pun semakin sulit untuk ditemukan. Karena hal inilah manusia mulai membaca keadaan dan mulai mencari alternatif pada makanan yang berasal dari tumbuhan. Dan perkembangan pun terus terjadi hingga kini terjadi industrialisasi pangan.

Dari cara menetap dan bertempat tinggal manusia pun senantiasa mengalami perubahan. Dari definisi evolusi di awal pun, manusia mengalami perubahan ini dalam waktu yang lama. Bahkan, sampai zaman yang modern saat ini masih ada masyarakat yang memilih untuk hidup dengan berpindah tempat (nomaden). Sebagai contoh adalah suku Polahi di Gorontalo yang masih berpindah tempat dalam kehidupannya. Dalam berbagai pembahasan sejarah yang pernah saya dapatkan, kebiasaan ini sangat bergantung kepada perkembangan pola pikir, kecerdasan serta perkembangan masyarakatnya. Pandangan umum yang didapat kita pada umumnya adalah masyarakat menuju kepada kemajuan saat sudah menggunakan kehidupan menetap pada tempat tinggalnya. Namun, dalam bukunya Muqaddimah Ibnu Khaldun menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Berbeda dengan pandangan pada umumnya, Ibnu Khaldun menghadirkan pandangan yang berbeda dan cerdas dalam penjelasannya. Dalam bab-bab awal bukunya, dijelaskan masalah perbedaan bangsa yang menetap dan bangsa yang berpindah dalam kehidupannya. Kehidupan bangsa yang digambarkan olehnya sangat lekat dengan kehidupnnya yang dekat dengan bangsa Arab. Iya membagi kehidupan masyarakat dalam dua kategori yaitu suku Arab Badui yang berpindah-pindah serta suku Arab yang sudah memiliki kehidupan menetap.

Dalam penjelasannya dijelaskan bahwa bangsa yang hidup berpindah memiliki kekuatan, ketahanan, dan kecerdasan yang lebih baik. Kehidupannya yang dinamis memaksa bangsa yang nomaden beradaptasi dengan kondisi yang berubah-ubah. Kondisi gurun yang tidak menentu ataupun tidak pastinya sumber air dan makanan membuat mereka mengembangkan daya nalarnya untuk membuat kelompok bertahan dalam kondisi yang sulit sekalipun. Karena hal ini, bukan hanya pemikiran saja yang terpengaruh, tetapi fisik dari suku Arab Badui juga terpengaruh. Bangsa yang hidup nomaden memiliki tubuh dengan postur yang lebih baik.

Lama tinggal menetap membuat kelompok terbiasa dalam kondisi yang baik. Lingkungan yang sudah dianggap nyaman untuk ditinggali akhirnya diputuskan oleh nenek moyang kelompok sebagai tempat tinggal permanen. Kondisi daerah yang aman, rendah resiko dan sumber pangan yang tersedia membuat kehidupan masyarakat semakin mudah. Inilah yang membuat masyarakat menetap hidup dalam kepraktisan yang jauh lebih tinggi dibanding masyarakat nomaden. Hal ini menyebabkan nalar pikir masyarakat yang tinggal menetap tidak sebaik masyarakat nomaden, serta kondisi fisiknya pun lebih buruk.

Itu tadi pendapat Ibnu Khaldun. Banyak sebenarnya yang dapat dianalisis dari teori yang dikemukakannya. Namun, keterbatasan ilmu yang dimiliki penulis sulit mengungkapkan dan menganalisis teori Ibnu Khaldun dengan teori lainnya. Sebuah pembahasan yang komprehensif mengenai buku ini seoertinya mampu menjawab permasalahan peradaban yang sedang dialami kini. Tulisan berikutnya mungkin akan menghadirkan analisis lebih mendalam mengenaik masyarakat nomaden dan menetap. Dengan ini, bisa jadi model pengembangan masyarakat yang tepat dapat dihasilkan untuk membangun kondisi fisik, sosial dan budaya suatu masyarakat.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s