Never Ending Learner

Pernah ga dalam posisi menjadi orang yang paling cerdas dalam suatu komunitas?
Atau pernah gak jadi seorang pemimpin suatu kelompok yang harus siap menjawab banyak permasalahan yang muncul?

Baru kepikiran beberapa detik yang lalu mau nulis ini, padahal ini jadi bahan perenungan sudah satu semester yang lalu.

Dalam suatu komunitas atau kelompok pasti ada satu atau dua orang yang dianggap sebagai tokoh paling bijak dan pantas dialamatkan sebagai pemberi solusi terhadap banyak masalah yang ada. Dalam hal ini biasanya akan tertuju kepada orang yang paling tua atau dituakan dalam kelompok itu ataupun orang yang didaulat sebagai pemimpin komunitas tersebut. Namun, dalam bahasan tulisan ini akan lebih menitikberatan pada One Who Lead.

Pernah, dalam suatu kesempatan saat aku mencalonkan diri sebagai ketua Forum BidikMisi, aku memiirkan

Saat seseorang memimpin, mau tidak mau dia akan menjadi orang yang dianggap paling capable di kelomponya. Orang ini pasti dianggap mampu menyelesaian masalah yang muncul saat keberjalanan organisasi ini. Keberjalanan organisasi mungkin dapat membuat orang ini lupa untuk meng-upgrade dirinya sendiri.

Aku pun menanyakan ini kepada beberapa teman yang lebih senior dan lebih banyak pengalaman terkait hal memimpin. Seperti yang kuduga, saat memimpin orang-orang memang cenderung untuk tidak melakukan upgrading berarti terhadap dirinya. Saat memimpin, orang-orang akan fokus terhadap apa yang sedang ia pimpin.

Sebagai seorang awam, mungkin aku menganggap hal ini wajar. Namun, saat merenung lebih lama dan berdiskusi dengan teman yang lain ada yang salah dengan kebiasaan ini. Dalam kehidupan yang senantiasa mengalir, berkembang, dan begitu dinamis akan sangat salah saat kita berhenti pada satu titik dalam waktu yang cukup lama(penulis menggambarkan waktu yang lama dalam memimpin).

Satu hal yang benar-benar mengingatkanku adalah pengalaman dengan ust. Felix Siauw di Ramadhan tahun 1437 H. Saat itu, Panitia mencoba untuk mendatangkan beliau sebagai salah satu pembicara. Namun, satu hal mengagetkan dari jawabannya. Beliau tidak bisa mengisi kala itu, alasannya karena beliau ingin rehat dari kegiatan tabligh guna menimba ilmu baru untuk meng-upgrade dirinya sendiri.

Ini yang kadang kala kita lupakan. Kita pikir apa yang kita miliki sudah cukup hingga kita lupa melakukan pembenahan diri dan peningkatan kapasitas diri. Saat posisi sudah mampu menjadi pemimpin pun membuat kita semakin kalap dan enggan untuk belajar lagi. Padahal, belajarnya seseorang merupakan sebuah keniscayaan.

Dari tulisan ini sebenarnya ingin mengingatkan diri pribadi dan kawan-kawan saja. Mengingatkan pada suatu hal yang sangat fundamental yaitu belajar. Menjadi pemimpin mungkin memberi kita banyak pembelajaran dari lamanya dan pengalaman saat kita memimpin. Namun, ilmu-ilmu yang sudah dirinci dan dicatat oleh ahli terdahulu akan membuat kita lebih cepat tahu tanpa harus mengalaminya. Sehingga, bisa jadi saat suatu masalah hadir di masa depan, kita menjadi lebih siap untuk menghadapinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s